kebun,taman,rumah,desain
Beli Tema IniIndeks
Gedung  

Gedung Linggarjati

Gedung Linggarjati – Gedung Naskah Linggarjati yang terletak di Desa Linggarjati, Kabupaten Kuningan, Kecamatan Silimus, menjadi saksi bisu kemerdekaan bangsa Indonesia. Bangunan yang saat ini digunakan sebagai museum memorial ini menjadi tempat pembicaraan antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946.

Namun siapa sangka dibalik sejarah yang tersimpan di Gedung Naskah Lingarjati tersebut ternyata terdapat gubuk seorang janda bernama Jessitam.

Gedung Linggarjati

Gedung Linggarjati

Kepada Detikcom, Sutiana mengatakan, “Sejarah bangunan ini bermula dari sebuah gubuk milik seorang janda bernama Jesitum pada tahun 1918. Kemudian pada tahun 1921 gubuk tersebut diubah menjadi bangunan semi permanen oleh seorang warga negara Belanda Tuan Tersana” Koordinator Bhavan Naskah Lingarajati, pada Senin (16/8/2021).

Wisata Sejarah Ke Linggarjati

Sutiana mengatakan, setelah diubah menjadi bangunan semi permanen, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal permanen pada tahun 1930-an oleh seorang Belanda lainnya bernama Van Oot Dom.

Gedung Linggarjati

Setelah itu, rumah Van Oot Dom disewakan kepada Heiker pada tahun 1935 dan diubah menjadi hotel bernama Hotel Rastard. Ketika pemerintah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, gedung ini berganti nama menjadi Hotel Hoke Ryokai.

“Namun pada tahun 1943 gedung tersebut direbut oleh milisi Indonesia dan digunakan sebagai markas dan dapur umum. Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, namanya diubah dari Hotel Hoke Ryokai menjadi Hotel Merdeka,” ujarnya.

Gedung Linggarjati

Menengok Gedung Linggarjati, Saksi Bisu Perjuangan Indonesia Usai Merdeka

Pada tahun 1946 sendiri, tepatnya pada tanggal 10–13 November, delegasi pemerintah Indonesia dan delegasi pemerintah Belanda mengadakan pertemuan di Hotel Merdeka. Delegasi pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Sajaharir berusaha mengevakuasi Belanda melalui jalur hukum.

Selama tiga hari perundingan, dihasilkan manuskrip Lingarjati yang memuat tiga pokok isi perjanjian. Dari perbincangan penting inilah Hotel Merdeka diberi nama Lingarajati Naskah Bhavan.

Gedung Linggarjati

Sutiana menjelaskan, “Tiga poin utama adalah bahwa Belanda harus mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan yurisdiksi atas Sumatera, Jawa dan Madura, dan bahwa Belanda harus meninggalkan wilayah de facto tersebut setelah 1 Januari 1949.”

Menilik Museum Gedung Perundingan Linggarjati

“Kedua, Republik Indonesia dan Belanda bekerjasama membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama Negara Indonesia Serikat, salah satunya adalah Republik Indonesia. Ketiga, Republik Indonesia dan Belanda akan merupakan Amerika Serikat Federasi Belanda Indonesia dengan Ratu Belanda sebagai presidennya,” lanjutnya.

See also  Gedung Dharma Wanita

Gedung Linggarjati

Sutiana melanjutkan, setelah perundingan Lingarajati berakhir dan tercapai kesepakatan, Gedung Naskah Lingarajati diduduki oleh pasukan Belanda sebelum digunakan sebagai sekolah dasar selama 25 tahun pada masa invasi militer kedua tahun 1948 hingga 1950 saya berangkat.

“Dari tahun 1948 hingga 1950, pada masa pendudukan militer, kedua gedung ini ditempati dan dijadikan markas Belanda. Baru pada tahun 1950 hingga 1975 gedung ini digunakan sebagai Sekolah Dasar Negeri Lingarjati,” ujarnya.

Gedung Linggarjati

File:gedung Perundingan Linggarjati, Kuningan

Baru pada tahun 1976 pemerintah menyerahkan Gedung Naskah Lingarajati kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk digunakan sebagai museum memorial yang masih ada hingga saat ini.

Di dalamnya, banyak benda bersejarah seperti piano, meja, kursi, lemari dan tempat tidur yang digunakan oleh perwakilan pemerintah Indonesia dan Belanda dalam pembicaraan gender masih tersimpan rapi.

Gedung Linggarjati

Walaupun banyak benda yang merupakan replika, namun tata letak benda-benda tersebut tetap sesuai dengan zaman pembicaraan Lingarajati. Bangunan tersebut menjadi salah satu saksi sejarah perundingan yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Inilah Museum Lingarjati yang dijadikan sebagai tempat perbincangan antara perwakilan Indonesia dan Belanda.

Ada Terapi Ikan Di Gedung Perjanjian Linggarjati

Batu hitam dengan 5 pilar masyarakat Indonesia berarti bahwa masyarakat melindungi kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingannya sendiri.

Gedung Linggarjati

Berawal dari sebuah gubuk yang dibangun oleh seorang ibu bernama Jesitam pada tahun 1918 dan menjadi tempat tinggalnya, bangunan tersebut kemudian menjadi salah satu saksi sejarah interaksi yang menentukan nasib bangsa Indonesia. Inilah Museum Lingarjati yang dijadikan sebagai tempat perbincangan antara perwakilan Indonesia dan Belanda.

Bangunan ini terletak di bagian timur kota Kuningan. Bangunan tua bergaya kolonial Belanda ini mengalami beberapa kali perubahan fungsi dan kepemilikan sebelum digunakan sebagai museum. Pada masa kolonial, gedung tua ini digunakan sebagai markas militer. Kemudian fungsinya berubah menjadi sekolah dasar dan itu juga hotel.

Gedung Linggarjati

Teras Malioboro 1

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan yang terletak di desa Lingarjati di Kecamatan Silimas ini digunakan sebagai tempat Pembicaraan Lingarjati pada tahun 1946. Gedung ini kemudian diresmikan sebagai museum pada tahun 1976, sebagai pengakuan atas peran pentingnya dalam upaya mewujudkan kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Nama lengkapnya Museum Gedung Perundingan Lingarajati, museum ini menjadi saksi bagaimana para pendiri bangsa berjuang secara diplomatis. Sutan Siyahrir, Susanto, Tirtoprodjo, Mr. Mohd.Rome dan Dr.A.K. Delegasi dari Ghani, Indonesia bertemu dengan delegasi dari Belanda yaitu Prof. Tuan. Shermerhorn, Dr.F. Debor, Pak. Van Pol, Dr. Van Mook dan diplomat Inggris Lord Killarney sebagai mediator.

Gedung Linggarjati

Memasuki museum, pengunjung dibawa dalam perjalanan diplomatik para pendiri negara untuk mencapai kemerdekaan. Meja perundingan, berbagai dokumen berupa foto, diorama, peninggalan lainnya serta hasil teks Lingarjati Sandhi dapat dilihat secara dekat di museum ini.

See also  Gedung Sapta Pesona Dibangun Oleh Menteri

Wiyak Bumi Wiyak Langit: Cerita Dibalik Kunjungan Saya Di Gedung Perundingan Linggarjati Kabupaten Kuningan

Berdasarkan riwayat tertulis, pembicaraan Lingjati dilaksanakan pada tanggal 10-12 November 1946. Langkah ini merupakan cara pemerintah mengusir Belanda melalui jalur hukum. Dimana pembicaraan tersebut menghasilkan tiga tema utama.

Gedung Linggarjati

Ada tiga ketentuan pokok, pertama, Belanda secara de facto mengakui Republik Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura, Belanda harus keluar dari wilayah de facto tersebut pada tanggal 1 Januari 1949.

Kedua, Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama membentuk Negara Indonesia Serikat dengan nama Negara Indonesia Serikat, salah satunya adalah Republik Indonesia. Akhirnya, Republik Indonesia Bersatu dan Belanda akan membentuk Indonesia Belanda, dipimpin oleh Ratu Belanda.

Gedung Linggarjati

Sejarah Museum Linggarjati Di Kuningan Jawa Barat

Hasil pembicaraan tersebut kemudian menghasilkan suatu naskah yang dikenal dengan Pakta Lingarajati atau Perjanjian Lingrajati yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 15 November 1946.

Di belakang bangunan terdapat halaman luas yang dihiasi pepohonan rindang dan tangga. Ada sebuah monumen di area yang bertuliskan isi utama dari dialog tersebut.

Gedung Linggarjati

Selain itu, terdapat pahatan batu berwarna hitam di bagian atas tugu yang bertuliskan Lima Pilar Masyarakat Indonesia. Lima pilar tersebut antara lain petani, pemuka agama, perempuan, tentara dan pemuda yang saling merangkul. Hal tersebut merupakan ekspresi dari kekuatan inti bangsa Indonesia yang bertekad untuk menjaga kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “cerebone”? Wisata kuliner seperti Ample Gentong dan Nasi Jamblang mungkin yang pertama terlintas di benak kita. Tapi bagaimana dengan wisata sejarah? Cirebon jelas menyimpan banyak sekali wisata sejarah yang pastinya tidak boleh Anda lewatkan saat berlibur. Misalnya, wisata peninggalan Kerajaan Cirebon berupa Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Anda yang berkunjung ke Keraton Kanmon dan Keraton Kasepuhhan akan lebih mengenal dinasti kerajaan Cirebon dan reruntuhan keraton tersebut.

Trip Ke Kuningan

Selain keraton, di Kuningan, Cireban memiliki tempat wisata sejarah yang terkenal bernama Museum Lingarajati Cireban. Meski bangunan museum tampak seperti bangunan tempat tinggal biasa dari luar, bangunan tersebut menjadi saksi dialog penting antara Indonesia dan Belanda. Bagaimana sejarah Museum Lingarajati Cirebon ini? Berikut penjelasannya.

Gedung Linggarjati

Museum Lingarjati yang terletak di Kuningen, selatan Cirebon ini awalnya adalah sebuah cottage yang dibangun pada tahun 1918 milik seorang ibu tunggal bernama Jessitem dan menjadi tempat tinggalnya. Fungsi dan kepemilikan bangunan museum telah banyak mengalami perubahan. Pada masa kolonial, bangunan dengan gaya arsitektur kolonial ini berfungsi sebagai markas militer. Kemudian berubah fungsi sebagai sekolah dasar dan hotel.

Setelah kemerdekaan, gedung Museum Lingarajati digunakan sebagai tempat berlangsungnya Perundingan Lingarajati pada tahun 1946. Gedung ini diresmikan sebagai museum pada tahun 1976 karena peranannya yang penting dalam upaya pembebasan bangsa Indonesia seutuhnya. Museum Lingarjati menjadi saksinya. Sebuah perjuangan diplomasi oleh para pendiri bangsa. Delegasi Indonesia pada pembicaraan saat itu adalah:

See also  Gedung Graha Wisata

Gedung Linggarjati

Gedung Linggarjati: Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia Yang Awalnya Hanya Gubuk

Selain delegasi Indonesia, pembicaraan tersebut juga dihadiri oleh delegasi dari Belanda dan delegasi dari Inggris sebagai mediator. Berikut nama-namanya:

Menurut sumber tertulis, pembicaraan Lingarjati berlangsung dari tanggal 10 hingga 12 November 1946. Langkah ini merupakan cara untuk menggulingkan Belanda melalui jalur hukum. Pembicaraan gender menghasilkan tiga tema utama, yaitu:

Gedung Linggarjati

Jika Anda tertarik dengan sejarah Jawa Barat, baca juga: Peninggalan Sejarah di Jawa Barat dan Sejarah Istana Bogor.

Polres Beltim Menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Yang Dipimpin Langsung Oleh Kapolres

Saat memasuki museum ini, Anda serasa dibawa melalui jalur diplomasi yang ditempuh oleh para founding fathers dalam upaya mencapai kemerdekaan seutuhnya. Berbagai dokumen seperti foto, diorama, manuskrip hasil kesepakatan gender dan barang-barang lainnya dapat dilihat di museum ini.

Gedung Linggarjati

Ruang negosiasi diisi dengan furnitur replika yang sangat mirip dengan situasi sebenarnya. Meski berupa replika, furnitur ini memungkinkan pengunjung untuk merasakan suasana interaksi yang terjadi saat itu. Deretan kursi di sebelah kiri diduduki oleh delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Siyahrir sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia. Delegasi Belanda menempati kursi baris kanan. Lord Killarney, diplomat Inggris yang dikirim ke Asia Tenggara, bertindak sebagai mediator untuk pembicaraan ini.

Dalam perundingan tersebut, Lord Kilorn dan beberapa wakil Belanda seperti Schermerhorn, Ivo Samkalden, P. Saunders tinggal di Lingarajati. Kamar-kamar yang ditempati oleh tokoh-tokoh penting ini diberi label dengan baik oleh pihak museum. Sedangkan delegasi Belanda lainnya seperti Letnan Gubernur van Mook dan Bancasaert lainnya menginap di kapal perang tersebut. Delegasi Indonesia menginap di rumah Bang Siyahrir di Linggasana, desa tetangga Lingrajati, sekitar 20 hingga 25 menit dari museum.

Gedung Linggarjati

Sambut Hut Ke 77 Ri, Gedung Perundingan Linggarjati Dihiasi Ribuan Bendera Merah Putih

Foto-foto ceramah dipajang di dinding ruang ceramah Lingarajati. Salah satu dari sekian banyak foto yang dipamerkan adalah seorang jurnalis asing yang sedang mengetik naskah berita di railing kediaman Bang Siyahrir di Linggasan. Menurut informasi yang diterima dari pemandu museum, foto-foto tersebut diterima dari Kedutaan Besar Belanda.

Di belakang bangunan museum terdapat pelataran luas yang dipagari pepohonan rindang dan tangga menuju pelataran. Di kawasan tersebut terdapat tugu yang isinya merupakan hasil pokok pembicaraan Lingarajati. Selain tugu di Museum Lingarajati

Gedung Linggarjati

Villa 48 linggarjati, sejarah gedung linggarjati, gedung linggarjati kayu putih, gedung perundingan linggarjati, hotel linggarjati kuningan, penginapan linggarjati, hotel di linggarjati, linggarjati, linggarjati hotel, hotel ayong m linggarjati, pepabri linggarjati, hotel ayong linggarjati